LaNyalla: PSHT Punya Peran Strategis untuk Jaga kualitas SDM Indonesia

140

 

SURABAYA – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menilai Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) punya peran sangat penting dan strategis sebagai penjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Penilaian itu disampaikan LaNyalla secara virtual dalam Sarasehan dan Buka Puasa Bersama ‘Satu Abad Terate Emas untuk Dunia’ PSHT Madiun, Sabtu (23/4/2022).psht

Hadir dalam acara itu Ketua Dewan Pusat PSHT, H. Issoebiantoro, Ketua Umum Pengurus Pusat PSHT, R Moerdjoko HW, Sekretaris Umum Pengurus Pusat PSHT, Tono Suharyanto, Para Pengurus PSHT di semua tingkatan dan perwakilan luar negeri, Para Pendekar serta Warga PSHT.

Baca: Presiden Larang Ekspor CPO, Sultan: Merugikan Petani dan Ekonomi Daerah Penghasil Sawit

“Salah satu kualitas sumber daya manusia adalah kesehatan. Baik jasmani dan rohani, fisik dan mental. Di sinilah peran penting dari perguruan silat. Karena silat, tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mental. Tidak hanya menyehatkan raga, tetapi juga menyehatkan mental dan spiritual,” papar LaNyalla.Psht

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia ini berkaitan dengan era bonus demografi yang akan dimasuki Indonesia di tahun 2045. Saat Indonesia berusia Satu Abad.

Bonus demografi ditandai dengan melimpahnya populasi penduduk usia produktif. Yaitu banyaknya populasi penduduk dengan usia antara 15 hingga 60 tahun.

“Bonus demografi seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi adalah berkah atau peluang. Tetapi di satu sisi bisa jadi musibah atau ancaman,” lanjut Senator asal Jawa Timur itu.

Dijelaskan oleh LaNyalla, melimpahnya usia produktif bisa menjadi peluang, karena dapat menggenjot pertumbuhan perekonomian negara.

Tetapi sebaliknya, jika besarnya usia produktif tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan pekerjaan, maka hal itu justru akan berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran dan banyak permasalahan sosial lainnya. Salah satunya meningkatnya angka kemiskinan.

“Bonus demografi dapat menjadi berkah apabila kualitas sumber daya manusia di Indonesia memiliki standar yang mumpuni. Sehingga akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara,” ujar dia.

Sebaliknya, bencana demografi akan terjadi jika jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ini tidak memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik, sehingga menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara.

“Di situlah peran perguruan silat seperti PSHT yang seharusnya mampu membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dari segi kesehatan jiwa dan raga,” katanya.

Oleh karena itu, di momen satu abad, LaNyalla berharap PSHT tetap eksis. Mengingat sejarah panjang lahirnya PSHT yang dikenal memiliki semangat juang dan dedikasi untuk kebesaran organisasi.

LaNyalla juga berharap PSHT dapat menjadi salah satu elemen yang mendorong Indonesia kembali ke jati diri aslinya, Pancasila. Sebab, hanya Pancasila yang mampu membawa bangsa menuju masa depan yang semakin kompleks.

“Pancasila adalah DNA dan watak asli bangsa. Pancasila merupakan wadah yang utuh bagi bangsa ini. Makanya saya berharap PSHT senantiasa memperjuangkan Pancasila sebagai jati diri bangsa,” kata LaNyalla.

PSHT tercatat secara resmi berdiri pada tahun 1922. Tetapi sejarah cikal bakal PSHT sebenarnya telah lahir sejak tahun 1903 ketika Ki Ageng Ngabehi Surodiwiryo meletakkan dasar gaya pencak silat Setia Hati di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya.

Pencak silat itu diteruskan oleh murid beliau, Ki Hajar Harjo Utomo, yang pada tahun 1922 di Madiun, mendirikan perguruan Pentjak Sport Club atau PSC, yang kemudian diganti menjadi Pemuda Sport Club, yang singkatannya PSC juga.

*BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI LANYALLA*
www.lanyallacenter.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.