Pengukuhan Sultan Ternate ke- 49 Penuh Rekayasa Seolah di Paksakan !

 

Suaraindonesia1, Ternate – Kisruh pengukuhan di internal Kesultanan Ternate terus bergulir di sinyalir dengan adanya pemutarbalikan fakta oleh Tulilamo dan Fanyira Kadato ! Dalam prosesi Pengukuhan Sultan Ternate ke- 49. Ternate 14/12/2021

Perhatian publik terkait prosesi pengukuhan Sultan ternate ke- 49 Hidayatulah Mudaffar Sjah sebagai Jou muda pada 2 desember lalu,melibatkan Gunawan Yusuf Radjim sebagai Tulilamo bersama Rizal Effendi, di sinyalir telah melakukan pemutarbalikan Fakta ! Sebagaimana apa yang telah mereka sampaikan di Harian Malut Post (03/12)

Pengukuhan

Berikut pernyataan Gunawan Yusuf Radjim (Tulilamo) Di Harian Malut Post,
Yang ber kontradiksi dengan klarifikasi Imam Mado (mohammad Abidin)

– Prosesi Si Dodemo (mendengar aspirasi) dari masing-masing dari perwakilan Heku dan Cim..
* Kenyataanya tidak ada aspirasi yang di dengar’ karena mereka datang mengajukan nama calon Sultan dan di tolak oleh Heku,namun pihak CIM’ bahkan tidak tahu menahu soal ini,menurut Kimalaha Cim sebagai Kimalaha Tabona Baharudin.

Pengukuhan

– Perwakilan itu mengusung nama-nama calon Sultan,kemudian dilanjutkan prosesi Si Dodego.
Kenyataanya pihak Heku (dalam hal ini para Imam) tidak mengetahui figur calon Sultan ketika ritual akan di mulai (para Imam dalam kondisi “kosong”) dan justru figur itu di dapat dari pencarian melalui ritual yang akan di jalankan(catatan – “jika di sebutkan nama-nama maka sudah ada figur – figurnya)

Jika sudah ada nama -nama maka akan jadi Fitnah!” tandas Imam Mado Muhammad Arifin.Hal ini yang di tolak keras oleh Imam Mado yang mengutamakan netralitas sampai di dapatkan petunjuk siapa calon Sultan itu. Jika tidak ada figur yang di dapat dari ritual di Heku! bagaimana bisa muncul satu nama,maka jelas hal ini sangat di paksakan oleh Oknum – oknum yang menjadi dalang peristiwa 2/12 kemarin.

Maka dengan demikian prosesi Si Dodego tidak memiliki dasar sehingga tidak Sah.

Baca: HDCI Peduli Bangsa Bukti Nyata Peduli Korban Erupsi Semeru

 

– Prosesi yang di hadiri Bobato Dunia dan Bobato Akhirat
* Kenyataanya kehadiran para Bobato tidak Kuorum atau tidak sampai setengah dari total jumlah semestinya,sehingga prosesi tidak valid,
Pengukuhan Hidayatullah M Sjah sebagai Jou Muda beberapa waktu lalu dan akan di lantik sebagai Sultan Ternate ke 49 pada 18 Desember 2021 mendatang, juga tidak di hadiri oleh 3 Kimalaha yaitu Kimalaha Marsaoli, Kimalaha Tomaito dan Kimalaha Tomagola yang merupakan perangkat adat tertinggi dalam struktur Kesultanan Ternate dalam pemilihan, pengangkatan bahkan pemberhentian seorang Sultan Ternate yang di Kenal dengan Fala Raha.

Fala Raha adalah lembaga adat yang sangat berwenang dalam pemilihan seorang Sultan Ternate yang telah ada sejak masa pemerintahan Sultan – Sultan Ternate sebelumnya.

Pengukuhan

– Pengukuhan Sultan muda di tandai dengan penyematan Tuala Wari kepada Hidayat oleh Kimalaha tamadi (Jafar Kamarudin).
* Sesuai hukum adat penyematan Mahkota dan Tuala Wari hanya dapat di lakukan oleh Kimalaha Marsaoli sebagai Momole yang di Tuakan.sehingga ke Absahan prosesi kemarin 2/12 gugur demi hukum adat yang berlaku ratusan tahun

– Saat ini ada tiga calon Sultan, nama-nama itu di serahkan pada Bangsa dan di teruskan pada Bobato 18 dan yang keluar hanya satu nama yaitu Ofa Hidayat.
Kenyataanya Bobato Akhirat Masjid Heku belum memperoleh petunjuk yang jelas (Nonako Hang) siapa figur Sultan ke-49 dan itu telah di sampaikan pada Bangsa ma Dopolo (Hi. Iskandar M Djae) dan di saksikan oleh Imam Bangsa (Hi Abdullah Tahir), Letnan Ngofa (Hi.Rusdi Husen) dan Tulilamo (Gunawan Y Radjim).

Tiba – tiba “Keluar satu nama” ini tidak dapat di terima kerena memang tidak ada nama yang di berikan oleh pihak Heku apalagi pihak CIM yang sama sekali tidak di libatkan.

Sebagai Tulilamo Kesultanan Ternate yang di lantik oleh alm.Sultan Mudaffar Sjah ll , Gunawan cukup paham prosesi sebenarnya dan wajib mengedepankan prosesi yang di sesuaikan dengan adat Se Atorang, dengan kata lain Gunawan melanggar kode etik pengangkatan Sultan Ternate

Berikut adalah pernyataan di Harian yang sama oleh Rizal Effendi..

– Prosesi di saksikan oleh semua perangkat Kesultanan
* Kenyataanya hanya sebagian Kecil yang hadir jika di lihat dari dokumentasi yang beredar di dunia maya dan beberapa orang yang hadir

– Penyematan Tuala Wari (Penutup Kepala khusus untuk Sultan) Seharusnya di lakukan oleh Kimalaha Tomagola (Munir Amal Tomagola) tetapi Beliau sudah meninggal sehingga di gantikan oleh Kimalaha Tamadi (Jafar K).sedangkan Kimalaha Tomaito (alm. Hi Kene) sedang sakit sehingga di serahkan kepada Kimalaha Tamadi.

Kenyataanya penyematan Mahkota dan Tuala Wari seharusnya di lakukan oleh Kimalaha Marsaoli, bukan Kimalaha Tomagola sedangkan alm Kimalaha Tomaito,ketika utusan datang kerumah beliau (beberapa hari sebelum berpulang) Beliau menganjurkan untuk menyatukan keluarga besar dan membenahi perangkat adat terlebih dahulu sebelum memulai prosesi.

Hal ini sebagaimana di sampaikan oleh Anak tertua alm.Hi Kene yang hadir dalam konferensi pers di Kedato Ici Soa Sio (5/12).Munir Amal Tomagola gusar dengan pernyataan Rizal Effendi yang menyatakan beliau sudah meninggal.

– Dalam prosesi Si Dodemo telah melalui proses mendengar aspirasi untuk mengusung nama calon Sultan,dan hanya ada satu nama,mereka inginkan Jo Ngofa Hidayat” kata Rizal.

Pernyataan ini Gugur secara Hukum adat sebagaimana di jelaskan di atas.

– Kerena yang di usung hanya satu nama sehingga di lanjutkan dengan prosesi Si Dodego, sehingga Beliau sudah Sah sebagai Sultan Muda.
* Poin ini juga sudah di jelaskan di atas ‘ bahwa para Imam yang melakukan ritual menyatakan “Nonako Hang” (belum di kenali /belum jelas). Pernyataan Imam mado mematahkan semua argumentasi Oknum – oknum yang mengatakan “hanya muncul satu nama”

– Jou Ngofa M. Ghazali bersedia untuk di lantik sebagai Kapita Lao (Panglima Perang Kerajaan)
Perlu di klarifikasi langsung apakah beliau menerima ataukah terpaksa? Namun yang penting di sini,jika pengukuhan Hidayat tidak Sah,maka sua pelantikan yang di lakukanya tidak Sah.

Melalui semua pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa pelaksanaan pengukuhan Hidayat memang di paksakan,di lakukan oleh Oknum yang tidak memiliki kompetensi/wewenang,atau memiliki kepentingan tertentu.

Menjadi catatan penting bagi kita semua bahwa prosesi pengukuhan Sultan tidak dapat di samakan dengan pilkada yang memunculkan figur – figur tertentu,berkampanye untuk kemudian di pilih.

Prosesi pengukuhan Sultan adalah hal yang Sakral !! Ia tidak dapat di konstruksi,tidak instan dan serta merta dan membutuhkan waktu (di Uji oleh Alam)
Sampai dia di “terima” dan di kukuhkan oleh (Si Nunako) dengan segala “Kabasarang” yang melekat pada dirinya sebagai Alam Makolano ,Sultan Mudaffar Sjah II telah melakui proses itu pada masanya,dengan segala dinamika keluarga besarnya,sampai menyatu dengan Balakusu se kano-kano.

Semua itu di jalaninya selama 20 tahun,kemudian Si Nonako pada november 1986.Betapa suatu perjalanan panjang dan berat. Jadi jika proses Si Dodemo dan Si Dodego menyalahi Aturan Adat ,maka tidak ada figur sultan yang pantas untuk sampai prosesi Si Nonako, apalagi dengan waktu yang sesingkat itu’ “Mustahil”

Ridwan.S

 

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected] Terima kasih.

- Advertisement -

Must Read

- Advertisement -

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.