Exclusive Content:

Pemilik Tanah Ahli Waris, BPN Kabupaten Bogor Diduga Takut Dengan PT Summarecon

Bogor - Persoalan kepemilikan tanah atau Surat Hak Milik,...

Hujan Deras Jembatan Darurat di Mundam Marap Ambruk

Hujan deras dari sore sampai malam, mengakibatkan jembatan darurat...

PT. DDP Dukung Pelestarian Lingkungan Hidup

Perusahaan perkebunan sawit PT Daria Dharma Pratama (PT. DDP),...
BerandaUncategorizedSultan Sebut Paradigma Politik Jawa dan Non Jawa Tidak Relevan Dengan Demokrasi

Sultan Sebut Paradigma Politik Jawa dan Non Jawa Tidak Relevan Dengan Demokrasi

Author

Date

Category

 

Jakarta – Suaraindonesia1, Wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin mengkritisi pernyataan beberapa tokoh yang menyatakan sikap skeptis terhadap kehadiran bakal calon presiden bukan keturunan Jawa selama ini.

Menurut Sultan, paradigma politik Jawa dan non Jawa atau Jawacentris tersebut sangat tidak relevan lagi untuk dibicarakan di negara demokrasi yang besar seperti Indonesia. Mari kita lihat pemerintahan Inggris yang hari ini sudah dipimpin oleh seorang PM keturunan India.Sultan

“Bahwa benar terdapat realitas demografis dan populer vote yang besar di Pulau Jawa pada setiap momen pemilu. Tapi itu tidak berarti kita menutup diri dan peluang bagi keterpilihan putra-putri terbaik bangsa dari daerah-daerah lain dari seluruh Indonesia”, ungkap mantan aktivis KNPI itu melalui keterangan resminya pada Rabu (26/10).

Baca: Mahfud Sesalkan Dana Otsus Dikorupsi, Filep Minta Negara Juga Evaluasi BPK

Oleh karena itu, kata Sultan, paradigma politik Jawacentris tersebut harus kita akhiri dengan pembaharuan sistem rekruitmen politik terhadap figur bakal capres pada setiap pemilu langsung. Benar kata Presiden Jokowi, bahwa Parpol tidak boleh semboro memilih Capres.

“Apalagi parpol cenderung hanya dengan melihat fakta popularitas dan elektabilitas yang diukur oleh lembaga survey politik saja. Sistem Rekrutmen politik capres harus dilakukan dengan mekanisme dan standar nominasi tertentu yang ideal”, tegas Pimpinan DPD termuda asal Bengkulu itu.

Di sisi lain, lanjut Sultan mengusulkan agar hasil pemilu tidak hanya dihitung dari populer vote saja tapi juga diukur dengan sebaran electoral college. Karena harus kita akui bahwa kualitas pemilih kita sangat rentan dimanipulasi dengan money politics dan isu politik identitas.

“Dengan demikian keadilan politik dan paradigma politik Jawa atau non jawa dapat kita seimbangkan. Jangan sampai kita selalu terjebak dalam dikotomi politik identitas suku dan agama tertentu saja yang dinilai berhak menjadi pemimpin nasional”, tegasnya.

Diketahui, terdapat pernyataan dari beberapa tokoh nasional terkait calon presiden yang secara realitas politik elektoral dan historis hanya akan diwakili oleh figur dari suku Jawa.

Terakhir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebut dirinya tidak akan terpilih kalau pun mencalonkan diri sebagai calon presiden (Capres) di pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Presiden yang nantinya terpilih, menurut Erick, akan berasal dari suku Jawa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Linda Barbara

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum imperdiet massa at dignissim gravida. Vivamus vestibulum odio eget eros accumsan, ut dignissim sapien gravida. Vivamus eu sem vitae dui.

Recent posts

Recent comments