Exclusive Content:

Dharma Bhakti TMMD Wujudkan Percepatan Pembangunan di Wilayah

Dengan mengusung Dharma Bhakti  TMMD Mewujudkan Percepatan Pembangunan di...

Wartawan Luak Limopuluah ” Todong” Wahyudi Thamrin Ikuti Konstetasi Pilwako Payakumbuh 2024- 2029

Wartawan Luak Limopuluah pantas acungkan jempol atas kemunculan Wahyudi...

Silent Majority, Dirty Vote & Parodi Politik

Perhelatan politik Pemilu 2024 dengan segala dinamika dan atmosfirnya...
BerandaDAERAHSecercah Semangat Perjuangan Sekolah dari Kampung Ujung Poco Ranaka Timur

Secercah Semangat Perjuangan Sekolah dari Kampung Ujung Poco Ranaka Timur

Author

Date

Category

 

Manggarai Timur, suaraindonesia.id – Akses ke sekolah masih menjadi tantangan di berbagai pelosok di Indonesia.Namun, berbagai keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat siswa-siswi untuk mengenyam pendidikan.

Bagi mereka sekolah adalah masa depan yang harus mereka persiapkan dan diperjuangkan meskipun harus menempuh jarak 7 km menuju sekolah dengan Semangat

Itulah yang dialami Risal, Itak,Yuni ,Kurni,Erlan dan Vigi. siswa siswi ini duduk di kelas 1,2 & 6 di Sekolah Dasar Negeri Inpres Dangka para, desa Rengkam, kecamatan Poco Ranaka Timur, kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur.Semangat

Bertempat tinggal di Kampung Ujung Topak mengharuskan mereka menempuh perjalanan menuju sekolah dengan jarak kurang lebih 7 km.

Baca: Polres Tanggamus Amankan Eksekusi Rumah dan Bangunan di Sedayu

Kampung ujung Topak merupakan bagian dari Dusun Satar Lewa Desa Rengkam yang letaknya kurang lebih 7 kilo meter menuju pusat pemerintahan Desa dan sekolah.

Tidak seperti kampung-kampung lainnya, kampung Ujung Topak hanya dihuni oleh 20 Kepala Keluarga saja.

Tidak seperti kebanyakan siswa di Indonesia, umumnya siswa akan bangun jam 6 pagi untuk berangkat ke sekolah dan mereka akan diantar oleh orang tuanya ke sekolah, apalagi jika jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Namun berbeda dengan Ita dkk, mereka harus bangun lebih awal di pukul 4 pagi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.Semangat

Untuk mencapai sekolah, Ita dkk mesti berjalan kaki sejauh kurang lebih 7 kilo meter menyusuri jalan aspal. Untungnya, di separuh perjalanan pada kilo meter keempat, mereka bisa bertemu dengan kawan-kawan sekolah lainnya yang tinggal di kampung Larik. Ada sekitar 10 siswa Mereka berangkat bersama melalui kondisi jalan yang sama sekira 3 kilo meter lagi untuk tiba di sekolah.

Seorang siswa namnya ita mengakui tampak kelelahan setiba di sekolah, namun tertutupi oleh rasa senang saat sudah bertemu dengan kawan-kawan mereka di sekolah. Pertemuan itu seperti kekuatan bagi mereka untuk tetap menjalani perjuangannya menempuh pendidikan untuk menemukan impian masa depannya.

Cerita perjuangan Ita dkk itu untuk menempuh jalan jauh pergi dan pulang dari sekolah .mengusik rasa penasaran tim indonesia1.id yang kemudian mencoba mengunjungi kediaman rumah tempat tinggal dari siswa siswi tersebut.

suaraindonesia1.id mencoba merangkum beberapa kisah perjuangan mereka demi menuntut ilmu ke sekolah. Berikut kisahnya:

Setiba di rumah salah satu siswi bernama Ita tim mencoba menggali semua informasi terkait aktifitas persiapan mereka sebelum ke Sekolah di pagi Hari.

Ita dkk harus bangun jam 4 menuju tempat dimana mata air berada untuk cuci muka.

” kami harus bangun jam 4 pagi , untuk cuci muka .kebetulan mata airnya juga tidak terlaluh jauh ” kata itak

Pantauan media ini ita dkk mencoba menjajal medan berlumpur dengan lereng tebing untuk mendapatkan sumber mata air.Bayang-bayang perjuangan anak-anak kampung itu menjadi penyemangat untuk meneruskan perjalanan tim mengorek semua keterbatasan mereka selama mengenyam pendidikan.

Sungguh Ita beserta teman-teman lainnya menjadi bukti dari masih banyaknya anak-anak di pelosok negeri ini yang berjuang untuk menuntut ilmu dan berharap dari perjuangan mereka akan ada sebuah impian masa depan yang cerah, masa depan yang akan mengubah hidup mereka nantinya.

Bagi sebagian orang, impian mungkin hanya akan berhenti sebagai bunga tidur. Tapi bagi mereka yang menjadikan impian sebagai bangunan dasar untuk mewujudkan angan-angan, impian bisa selalu menjadi api semangat untuk meraih apa pun.

Seorang Pelintas Negeri berkata bahwa

“Menyalakan semangat anak Indonesia itu unik, tidak akan habis kita bahas tangisannya, solusi demi solusi dibungkus dengan janji namun masih terdengar jelas doa-doa lirih dari pelosok sepi.” Dan sangat wajar mereka di desa memilih meninggalkan sekolah lalu membantu orang tua di kebun/ladang karena sekolahpun tak mampu menghadirkan kenyamanan belajar,karena pemerintah lebih memilih sekolah dibangun di Zona nyaman ”

Penulis : Carles Marsoni

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Linda Barbara

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum imperdiet massa at dignissim gravida. Vivamus vestibulum odio eget eros accumsan, ut dignissim sapien gravida. Vivamus eu sem vitae dui.

Recent posts

Recent comments